Lainnya

LOGIKA TERBALIK

Djamu Kertabudhi

Oleh Djamu Kertabudhi
Akademisi

MARI kita bahas dengan struktur bahasa sederhana tentang kancah politik pilkada yang sudah mulai menghangat ini, dan sisi waktu yang sudah menghadang kita. Berdasar referensi yang pernah Saya pelajari selama ini, bahwa langkah pertama dilakukan partai pilitik (parpol) sebagai mesin politik, dalam kontestasi politik pilkada 2018, adalah membangun koalisi guna pemenuhan pensyaratan pengusungan dengan ikatan kesamaan ideologi dan kesamaan persepsi tentang kondisi daerahnya.
Selanjutnya, merumuskan kriteria figur bakal calon memungkinkan untuk dipertimbangkan menjadi pasangan akan diusung koalisi tersebut. Adapun kriteria ini diumumkan secara terbuka pada saat membuka pendaftaran sebagai persyaratan mengikat bagi peminat. Seperti contoh kriteria A ; nilai ketokohan, pengalaman di bidangnya, memiliki dana pribadi memadai, dan lain-lain. Ada pun faktor elektabilitas bisa dikembangkan kemudian.
Namun apa yang terjadi dalam proses politik menjelang pilkada 2018 ini, sikap perilaku parpol masing-masing cenderung mengutamakan memunculkan figur bakal calon kemungkinan akan dijadikan pilihannya. Padahal parpol tersebut tidak memiliki pensyaratan mengusung sendiri minimal 10 kursi DPRD.
Demikian pula sikap perilaku figur yang berniat tampil sebagai calon pimpinan daerah, lebih mengutamakan sosialisasi ke publik, baik pola tatap muka maupun melalui pemasangan alat praga secara gebyar menghiasi lingkungan pedesaan. Hal menarik adalah figur bakal calon memilih jalur perseorangan/independent. Seharusnya, bersangkutan terlebih dahulu membentuk tim relawan terstruktur, sistematik secara kehirarkisan. Tentunya, berdasarkan pendekatan kewilayahan untuk mesin politik figur mengimbangi kekuatan struktur parpol. Namun kenyataannya tidak demikian, bersifat serba instan mengutamakan pengumpulan copy KTP sebagai persyaratan pencalonan.
Asumsi saya situasi kondisi seperti ini, akan berdampak negatif merugikan semua pihak termasuk figur dan masyarakat sendiri. Figur kompeten sekali pun kemungkinan akan berguguran sebelum pertarungan dimulai, di samping tidak menutup kemungkinan akan muncul calon yang track recordnya belum diketahui publik dan kapasitas figur masih diragukan. Punten wassalam.(**)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Close
Close