Ragam Terkini

Menjadi Organisasi Zaman Now

Oleh M. Firaldi Akbar Zulkarnain (Ketua MKGR Kota Bandung)

IBARAT bermain panah menembak sasaran, maka perlu ada sedikit gerak tarikan pegas kebelakang agar busur panah bisa mendapatkan daya momentum untuk melesat kencang ke depan. Itulah kira-kira hakikat dari refleksi catatan akhir tahun ini. Jadi tulisan refleksi ini bukan sebuah pemikiran dan perasaan yang gagal ‘move on’ karena terlalu terpaku pada kegemilangan atau persoalan masa lalu, melainkan menjadi bahan evaluasi di 2017 agar bisa menuju sasaran tepat di 2018 dan seterusnya.

Mengutip ucapan Ketua Umum PP AMPI Dito Ariotedjo, bahwa perkembangan zaman saat ini sudah memasuki era generasi ke 4.0, di mana ditandai dengan era percepatan perkembangan teknologi dan informasi yang luar biasa. Jika dulu siapa yang kuat itulah yang hebat, sedangkan sekarang bukan lagi tentang siapa yang kuat atau besar, melainkan siapa yang cepat maka dialah yang menjadi pemenang. Jadi era ‘zaman now’ bukan lagi zaman yang besar mengalahkan yang kecil, melainkan yang cepat walau kecil akan meninggalkan yang lambat walau besar.

Yasraf Amir Piliang seorang ahli filsafat dari ITB pernah menuliskan bahwa dunia sekarang memasuki era ‘dunia yang dilipat’, yang maksudnya bahwa perkembangan kehidupan masyarakat memasuki kondisi yang semakin cepat atau disebut dengan dromologi, dan dromologi sendiri makna nya adalah berlari sangat kencang (Dromo) dan istilah ini sangat tepat digunakan untuk menjelaskan fenomena sekarang.

Dromologi juga merasuk ke dalam kebudayaan, sehingga segala kehidupan manusia sekarang diukur dengan seberapa cepat ia mencapai sesuatu agar tidak dianggap kalah di dalam kompetisi dan ketinggalan zaman. Sebenarnya percepatan ini dikarenakan oleh dampak dari pemadatan teknologi informasi (telepon seluler, SMS hingga media sosial) dan transportasi (dari awalnya hanyalah kereta kuda dengan kecepatan 10 m.p.h., kemudian lokomotif uap 36 m.p.h., pesawat terbang 300-400 m.p.h., hingga pesawat jet 600-700 m.p.h.).

Akibatnya dunia ini semakin mengecil dan menyempit (bukan karena jarak nya), tapi daya capai nya yang semakin pendek dan singkat, karena semakin bertambah lajunya  kecepatan moda transportasi yang digunakan.

Dampak dari percepatan teknologi informasi dan transportasi ini terhadap budaya manusia mengakibatkan fenomena yang disebut dengan dromotariat; manusia yang kehidupannya bergantung pada kecepatan, kecepatan menjadi kebutuhan, kecepatan menjadi alat untuk meraih kesejahteraan/keuntungan ekonomi, meraih kekuatan militer, kecepatan menjadi contoh dari kehidupan dunia (Paul Virillio, Speed and Politics, Semiotext).

Analoginya seperti teori energi dari Albert Einstein, bahwa kekuatan energi tidak hanya bergantung kepada berat massa (benda) saja, melainkan juga seberapa cepat lesatan dari benda itu sendiri, semakin cepat ia melesat maka semakin besar energi yang diciptakan.

Kecepatan Anak Muda ‘Zaman Now’ Kota Bandung

Perkembangan kecepatan kehidupan manusia yang menyentuh dalam berbagai aspek kehidupan juga memiliki dampak pada masyarakat kota Bandung, terutama untuk anak muda nya. Pada perkembangannya, media daring (online) dan jejaring media sosial sudah menjadi sangat dekat dan akrab dengan keseharian masyarakat saat ini. Berbagai arus informasi dan data yang tersebar menjadi konsumsi masyarakat yang secara perlahan menjadi pelengkap kebutuhan akan informasi yang dulu berasal dari media konvensional seperti televisi, radio dan surat kabar atau media cetak lainnya.

Perkembangan media daring dan jejaring media sosial menjadi lahan dinamika yang tidak hanya mempengaruhi masyarakat secara informasi tapi juga sampai menyentuh aspek yang lebih intim. Berdasarkan referensi dari beberapa hasil rilis survey perilaku pemilih khususnya di kawasan Jawa Barat, di mana Kota Bandung merupakan base informan terbesar sebanyak 51% dari total 1200 responden se-Jawa Barat. Data yang didapat yaitu sebanyak 51.7% dari total responden menyatakan bahwa informasi yang di dapatkan dari media sosial memberikan pengaruh yang sangat kuat dan representatif terhadap tingkat keterpilihan dan pengenalan tokoh-tokoh maupun isu politik-sosial.

Sedangkan 23.8% lainnya menganggap kurang berpengaruh serta 24.5% lainnya menyatakan tidak tahu/tidak jawab (temuan survey Jawa barat 10-15 Nov 2017, Poltracking.com). Hal lain yang tidak kalah menariknya, bahwa dari total 1200 responden tersebut, sebanyak 50.7% merupakan usia pemilih pemula – produktif, dan sisanya 49.3% merupakan pemilih tidak produktif (memasuki usia 40 – keatas), dengan tingkat pendidikan mayoritas lulusan SMA dan Sarjana Strata I.

Hal ini memberikan petunjuk terkait tingkat rasionalitas masyarakat terhadap tokoh dan pilihan politiknya masih sangat bergantung kepada serapan informasi yang didapatkannya. Data lainnya yang mendukung adalah hasil rilis politicalwave.com di mana terdapat setidaknya 3 Juta pengguna aktif (atau 30% dari total 10 Juta pengguna aktif se-Jawa Barat (Dede Yusuf, 2017). Tingginya tingkat penggunaan media online dan media sosial di Kota Bandung menjadi standing point bagi segenap stakeholders di kota Bandung untuk juga turut mempercepat laju geraknya, tidak terkecuali dalam hal ini bagi MKGR Kota Bandung.

Percepatan MKGR Kota Bandung Menjadi Ormas ‘Zaman Now’.

Perkembangan zaman yang menuntut segala sesuatu untuk bergerak cepat juga menginspirasi MKGR (Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong) kota Bandung untuk pula melakukan akselerasi yang sama, hal ini senada dengan tagline utama MKGR Bandung pada tahun 2017 yakni ‘Bergerak’, maka dengan sigap dan cepat MKGR Bandung sudah melakukan pembentukan 30 pengurus di seluruh kecamatan se-kota Bandung.

Seiring dengan itu, MKGR juga melakukan proses silaturahim ke tokoh-tokoh di kota Bandung dan berbagi informasi kegiatan yang aktif di media sosial, dengan harapan gerakan ini akan memberikan dampak positif yang besar terhadap organisasi yang lain dan masyarakat di kota Bandung. Harapannya dengan pola seperti itu MKGR Bandung bisa menjadi trend-setter  dan pioneer organisasi kemasyarakatan yang berbasiskan para tokoh dan masyarakat serta bermodalkan kecepatan dalam adapatasi penggunakan teknologi informasi. Dengan sasaran utama nya membawa perubahan yang positif bagi masyarakat, khususnya anak muda di kota Bandung.

Selain itu MKGR Bandung juga memiliki tujuan untuk menjadi partner pemerintah kota yang akseleratif dan sinergi-kritis, sehingga mampu menjadi katalisator bagi perumusan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak hanya pro terhadap masyarakat, tapi juga terhadap perkembangan anak muda generasi milenial nya. Karenanya MKGR kota Bandung menawarkan 5 prioritas bidang yang identik dengan generasi milenial atau zaman now, yakni Olahraga, Budaya, Ekonomi-Kreatif, Keagamaan (Spiritual) dan Pendidikan (CSIS, 2017).

Semoga catatan akhir tahun dan harapan dari MKGR kota Bandung mampu memberikan pandangan yang mampu menjawab keresahan dan kebutuhan masyarakat, terutama generasi milenial atau zaman now, tapi harapan cumalah harapan dan catatan hanyalah catatan jika tidak  ada usaha keras dan semangat pantang menyerah untuk mewujudkan, akhirul kalam semoga MKGR kota Bandung di tahun 2018 kelak bisa bertransformasi dari ‘MKGR Bergerak’ menjadi ‘MKGR Berkarya, selamat tahun baru. (*)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close