Kota BandungPendidikanRagam Terkini

Tiga Nama Bersaing, Siapa Calon Rektor Unpad?

 

Suasana Sidang Pleno Majelis Wali Amanat Unpad di Sekretariat MWA Unpad, Jalan Hayam Wuruk No. 14, Bandung.

BANDUNG–Persaingan pemilihan rektor Universitas Padjadjaran sengit. Tercatat delapan nama calon dalam proses pemilihan. M ajelis Wali Amanat (MWA) menetapkan tiga nama dengan perolehan suara terbanyak Aldrin Herwany, Atip Latipulhayat dan Obsatar Sinaga.

Tiga nama tersebut memiliki latarbelakang berbeda. Aldrin Herwany seorang periset yang berprestasi, Atip seorang pakar hukum yang pernah nyalon jadi hakim MK sementara Obsatar adalah guru besar berkelas Internasional.

Dalam rilis melalui kertas kerjanya yang berjudul Depositor Sensitivity to Risk of Islamic & Conventional Bank: Evidence From Indonesia, Aldrin berhasil menjadi salah satu dari tujuh peraih kerta kerja terbaik di bidang Ekonomi, Bisnis dan Keuangan yang secara otomatis dipublikasikan pada The International Journal of Business & Finance Research.

“Forum ilmiah tahunan ini diikuti 502 praktisi dan akademisi yang mewakili 240 universitas, institusi, dan perusahaan dari 40 negara,” ujar Dosen Manajemen, dan juga peneliti keuangan dari FEB Unpad dan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI) Jawa Barat,” Rabu (26/9/2018).

Bagi alumni Program Doktor dari International Islamic University Malaysia, dunia penelitian nampaknya sudah mendarah daging.

“Beberapa tulisan ilmiah yang meneliti akan berbagai kasus dan fenomena ekonomi di Indonesia sudah dimuat dalam jurnal maupun media cetak,” ucap pria yang memperoleh 7 suara tersebut.

Sementara itu, melirik sosok Atip, selain bergiat sebagai salah seorang tokoh penting di lingkungan organisasi Persatuan Islam (Persis), ia saat ini memimpin Tajdid Institute, sebuah lembaga yang bergerak di bidang pengembangan masyarakat dan pendidikan.

“Tahun 2014, saya pernahmengikuti seleksi calon hakim konstitusi. Padahal 2008 mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah meminta saya secara langsung,” ujar dosen Fakultas Hukum Unpad.

Pengakuannya, ia membantah mengikuti seleksi calon hakim konstitusi karena menginginkan fasilitas negara.
“Saya ingin memulihkan citra mahkamah konstitusi yang kini sedang terpuruk,” ucap Atip yang meraih 6 suara dalam pleno MWA.

Tak kalah berprestasi, calon ketiga dengan suara terbanyak, Obsatar berhasil memikat dengan kemampuannya dalam bidang akademik maupun nonakademik. Bahkan, ia pernah menjadi wartawan serta penyiar.

Profesor muda tersebut, selain mengajar di Unpad ia pun menjadi dosen non organik di Seskoad, Seskoau dan Sesko TNI.

“Bersyukur karena sering dipercaya menjadi tamu untuk menyampaikan makalah seperti Oxford University (Inggris), IUMW Malaysia, De Bercelona Universitat (Spanyol) dan Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat,” ungkap Asesor Nasional Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi serta menjabat sebagai Sekretaris Pascasarjana (Master dan Doktoral) Program Studi Hubungan Internasional FISIP Unpad.

Laki-laki yang lahir di Deli Serdang, kelahiran 17 April 1969 tersebut, merupakan anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Pendidikannya ditempuh pada program studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran, yang kemudian berlanjut pada jenjang doktoral di universitas yang sama.

“Pernah menjabat Staf Ahli Bupati Tabanan Bali di masa kepemimpinan Nyoman Adi Wiryatama (2005-2010),” ujar peraih 13 suara. (***)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close