CimahiRagam Terkini

Pengaspalan Jalan Dituding Asal-asalan, PUPR Membela

 

Baru saja selesai, ruas Jalan Martanegara Cimahi pertama mengelupas pada Rabu (7/11/2018) dengan panjang kerusakan sekitar 70 meter.

 

CIMAHI – Pengerjaan pengaspalan di ruas Jalan Mahar Martanegara, Kota Cimahi diduga asal-asalan. Baru saja selesai, ruas jalan pertama mengelupas pada Rabu (7/11/2018) dengan panjang kerusakan sekitar 70 meter. Se­lang beberapa hari pengelu­pasan menjadi 150 meter dengan lebar seluas 4,5 meter.

Data Dinas Pekerjaan Umum dan Pena­taan Ruang (PUPR) Kota Ci­mahi, ruas Jalan Mahar Mar­tanegara yang sudah diover­lay sepanjang 445 meter, dengan lebar 9 meter, dan ketebalan 5 cm.

Proyek pengerjaan overlay jalan dimenangkan CV Tri Manunggal Karya. Anggaran yang dibutuhkan untuk pengerjaan overlay ruas jalan sepanjang 445 me­ter ditambah pengerjaan drainase sepanjang 300 meter mencapai Rp 1.381 miliar.
Anggota Komisi 3 DPRD Kota Cimahi, Enang Sahri menuding ke­rusakan jalan disebab­kan karena pengerjaan yang asal-asalan. Bahkan, berdasar­kan informasi pengaspalan dilakukan hanya 3 hari.
Dia mempertanyakan dinas Pekerjaan Umum dan Peru­mahan Rakyat (PUPR) yang memiliki kewenangan peng­erjaan proyek dilakukan saat musim hujan. Bahkan, dinas tersebut tidak melakukan kontrol dan pengawasan.

“Kualitas aspal yang diguna­kan dan proses pengerjaan yang dilakukan perusahaan pemenang lelang apakah sesuai prosedur atau tidak ini menjadi pertanyaan,” kata Enang, Selasa (12/11/2018).

Dia menilai, seharusnya dinas pada saat proyek akan ditender sudah memimiliki spesifikasi teknis mengenai kualitas aspal yang digunakan. Namun, melihat kenyataannya hancur karena gara-gara hujan maka dapat dipastikan pengerjaan asal-asalan.

Dia menilai sebenarnya, kualitas aspal bisa diperta­nyakan pada perusahaan pemenang proyek saat proses pembuatan aspal Asphalt Mixing Plant (AMP).

“Pada saat memproduksi aspal di AMP itu kan bisa di­lihat campurannya seperti apa, apakah ada aspal ditam­bah dengan material lainnya, apakah perbandingannya sesuai atau tidak. Bisa jadi tidak sesuai, akhirnya saat digunakan jadi seperti ini,” terangnya.

Setelah pengerjaan selesai, tanggungjawab kontraktor ada tahap pemeliharaan jalan selama tiga bulan, sekaligus memastikan apakah ada ke­rusakan atau tidak.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Cimahi, Wilman Sugiansyah beralasan, untuk menguji kualitas aspal baik atau buruk harus dilakukan pengujian di labolatorium.

Namun, untuk jalan tersebut dia mengklaim kualitas sudah bagus, hanya saja arusnya kuat jadi mengelupas. Ditam­bah belum merekat dengan kuat, jadi mudah hancur lagi.

Disinggung soal bongkahan aspal yang teksturnya seperti pasir saat diremas menggunakan tangan, dia mengatakan dengan santai hal tersebut wajar lan­taran aspal terus digerus air.

“Untuk aspal ini kan kita pakai perekat, jadi perekatnya belum maksimal sudah kena air. Akhirnya aspal jadi mudah pecah. Bukan karena kuali­tasnya jelek,” elak dia.

Kendati begitu, dia menga­kui, terkait pengerjaan yang memasuki musim hujan di­sebabkan karena adanya ke­terlambatan lelang.

’’Proyek pengerjaan overlay jalan termasuk ke dalam lima proyek gagal lelang,”ucap dia.

Wilman menambahkan, ke­rusakan jalan tersebut masih menjadi tanggungan perusa­haan pemenang proyek. Sebab, penggunaan baru 3 hari.

’’Memang kondisi kerusa­kannya parah, dan bisa se­makin parah kalau kondisi cuaca ekstrimnya terus ber­langsung,” kata dia. (***)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Back to top button
Close