CikalongWetan

Aset PLTA Cirata Rp 25 Triliun

 


CIKALONGWETAN– Selama 30 tahun beroperasi, aset PLTA Cirata mencapai Rp 25 triliun. UP Cirata merupakan pembangkit terbesar dengan fasilitas yang tidak dimiliki unit lain, terutama untuk pengaturan frekuensi.

Selama ini ketersediaan pasokan listrik sebesar 98,72% dan tidak ada unit di Indonesia yang mencapai sebesar itu, dengan tingkat gangguan selama setahun hanya 0,1-0,2%.

“PJB saat ini tidak hanya berkutat pada operation and maintenance tapi juga bergerak pada fase business development opportunities untuk meningkatkan kapasitas pembangkit. Pemeliharaannya tidak hanya aset fisik tapi juga human capital dengan online monitoring sistem yang disesuaikan dengan teknologi saat ini,” ujar GM Unit Pembangkitan PLTA Cirata Muhamad Munir usai menggelar peringatan 30 tahun Cirata bersama PT Pembangkitan Jawa-Bali (PT PJB) di Unit (BPWC), Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rabu (21/11/2018).

PLTA Waduk Cirata yang dibangun dan beroperasi pada 1988 menjadi salah satu penyuplai listrik sangat strategis bagi sistem kelistirkan Jawa, Madura, dan Bali (Jamali).

Meski sudah berusia 30 tahun, PLTA yang memiliki luas area 7.111 hektare dengan delapan turbin pembangkit energi listrik yang menghasilkan kapasitas 1.800 MW ini, masih terus memproduksi listrik dengan ketersediaan pasokan sebesar 98,72%.

Kepala Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC) Wawan Darmawan mengatakan, Waduk Cirata merupakan salah satu waduk dari tiga waduk kaskade Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, dengan luas genangan 6.200 hektare dan volume air pada waktu normal sekitar 2.165 juta meter kubik.

Selain memiliki fungsi utama untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Waduk Cirata juga memiliki fungsi lain seperti budidaya perikanan, pertanian, pengendali debit air, dan transpotasi air.

“Meski telah berusia 30 tahun, PLTA Waduk Cirata masih menjadi penyuplai utama untuk suplai listrik di Jawa, Madura, dan Bali,” kata Wawan.

Wawan mengemukakan, air di Waduk Cirata selama ini dimanfaatkan untuk menggerakkan delapan turbin pembangkit energi listrik dengan kapasitas 1.800 MW. Namun setelah 30 tahun berjalan banyak kendala yang harus dihadapi di perairan waduk, khususnya terkait kualitas air.

Semestinya, air di Waduk Cirata berada di level I atau II, tapi kenyataannya saat ini sudah level III dan IV yang masih baik untuk dipakai pertanian dan perikanan.

“Kalau itu dibiarkan terus bisa lebih buruk lagi karena sekarang air di sekitar intake juga sudah kotor. Penyebabnya gulma air, sisa dari pakan yang sehari mencapai 420 ton dan menjadi racun penyebab percepatan terjadinya korosi,” ujar dia. (***)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close