Ragam Terkini

Ini Potret Kemiskinan Warga di Ibu Kota KBB

 

dokumen J-Balad
Ny Yuyun saat menggendong anaknya, Sari Rahayu, 1 tahun menderita bibir sumbing (bawah). Suhaya (atas) lansia yang hidup sebatang kara tinggal di rumah yang berdingding triplek.

NGAMPRAH– Suhaya,65, warga Kampung Ciwantani RT 04/ 17 Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) salah satu potret masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Bukan rumah sendiri yang ia tinggali. Hidupnya terpaksa menumpang di rumah tetangganya saking miskinnya. Tidur beralaskan tikar, rumahnya asal teduh. Dingding itu terbuat dari triplek yang sudah keropos.

Suhaya memang hidup sebatang kara. Istrinya sudah lama meninggal. Anak-anaknya pun diketahui sudah lama meninggal. Setiap hari Suhaya mengandalkan pemberian dari warga yang masih peduli terhadap hak hidup seseorang. “Alhamdulilah bapak tiasa tuang dinten ieu. (Alhamdulila bapak bisa makan hari ini, red),” kata Suhaya menerima pemberian bantuan sembako berupa beras, gula, mie instan dan lain sebagaianya dari J-Balad pekan lalu.

Organisasi J-Balad memang konsen terhadap kegiatan sosial masyarakat. Sudah tiap kecamatan yang dikunjungi J-Balad hanya sekadar memberikan sembako dan juga pakaian yang layak pakai.

Baru-baru ini kunjungan J-Balad ke Kecamatan Cihampelas, Cikalongwetan, Padalarang, Cipeundeuy, dan Ngamprah.

“Bulan November ini sudah 175 penerima berupa sembako, pakaian dan uang alakadarnya,” ujar Ketua J-Balad, R Arie Johari, Senin (26/11/2018).

Di Kampung Babakan Situ Tengah RT 01/02, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, J-Balada membantu keluarga Bapak Asep. Istrinya, Yuyun saat ini tak berdaya menderita tumor mium. Sementara anaknya, Sari Rahayu berusia satu tahun, menderita bibir sumbing harus menjalani operasi tahap pertama di Rumah Sakit Santosa Bandung. Dari mulai susu formula hingga BPJS, J-Balada menanggung keluarga ini.

Potret itu bagian dari kegiatan sosial J-Balad membantu warga KBB yang tidak tersentuh oleh Program Keluarga Harapan (PKH) yang disalurkan oleh pemerintahan melalui Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. “Saya merasa miris di ibu kota KBB masih banyak ditemukan kondisinya seperti Pak Suhaya, Ibu Yuyun dan warga lainnya. Bahkan belum tentu ada yang berbaik hati menampungnya seperti yang di lakukan keluarga dari Malasari,” kata Arie.

Tulisan ini hanya sedikit menggambarkan sisi lain dari sekian banyak saudara- saudara kita yang di masa tuanya hidup di bawah garis kemiskinan, dan tidak mendapat perhatian dari dinas terkait juga pemerintahan setempat. (***)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close