Ragam Terkini

Warga Parongpong Selamat dari Tsunami Banten, Ini Cerita Pilunya

 

ist
Novianti, 15, (kerudung putih ujung kanan) saat mendoakan jenazah ibunya Nyai Sumarnu bersama krabat dan masyarakat Kp Pasirmuncang Rw 18 Ds Cigugurgirang, Kec.Parongpong Kab. Babdung Barat, Jumat (28/12/2018).

PARONGPONG–Inna lillahi wainna ilaihi roojiuun telah meninggal dunia Nyai Sumarni warga masyarakat Kp Pasirmuncang Rw 18 Ds Cigugurgirang, Kec.Parongpong Kab. Babdung Barat salah satu warga yang terkena dampak tsunami Banten dari Kabupaten Bandung Barat. Mohon doa dari seluruh warga masyarakat Bandung Barat semoga husnul khotimah.

Pesan tersebut disampaikan Anggota DPRD KBB dari Fraksi PKB, Ade Wawan dalam pesen whats app yang diterima redaksi, Jumat (28/12/2018).

“Alhamdulilah anak almarhumah, Novianti yang berumur 15 tahun selamat dari kejadian bencana tersebut,” kara Ade Wawan.

Novianti tak kuasa menahan tangis ketika mengetahui sang ibu meninggal dunia. Dia selamat dari maut setelah berhasil meyelamatkan diri ketika gelombang tsunami menghantam penginapan di Pantai Anyer Banten. “Saat kejadian saya berada di luar penginapan langsung berlari ke dataran tinggi begitu ada gelombang datang,” kata Novianti. Dia juga selamat bersama kakaknya Riyan, 22, yang saat ini masih dalam perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.

“Ibu meninggal terkena reruntuhan matrial bagunan penginapan,” kata Novi sambil berurai air mata.

Keluarga ini datang ke Pantai Anyer Banten hanya untuj sekadar berlibur bersama rombongan keluarganya di Cileunyi. Malam itu pun menjadi duka yang sangat mendalam bagi keluarga ini lantaran tsunami menyapu secara tiba-tiba pesisir pantai.

Vokalis Seventeen, Ifan Seventeen salah satu korban selamat dari terjangan tsunami di Tanjung Lesung, Banten. Ifan Seventeen menceritakan perjuangannya untuk menyelamatkan diri. Diakui sang vokalis, ia sempat terombang-ambing selama lebih dari 2 jam di laut.

“Pakai kotak kecil gitu berempat. Itu juga kayak enggak mungkin hidup. Kan, sudah muntah-muntah, mayat sudah di mana-mana. Ada 30, 40-an mayat semua,” kata Ifan.

Selama itu pula, Ifan Seventeen tak henti berdoa dan berselawat untuk meminta perlindungan. Pria berusia 35 tahun ini sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup.

Willy Siska menjadi saksi bisu kedahsyatan tsunami Banten yang merenggut nyawa istri dan putri sulungnya. Willy sempat tersapu gelombang tsunami dan terombang-ambing selama tujuh jam, sebelum akhirnya diselamatkan tim SAR. Willy yang sempat terseret tsunami Banten, terpisah dengan istri dan dua anaknya.

Bapak dua anak itu terseret gelombang dan terombang-ambing di tengah laut sejauh lima kilometer dari bibir pantai. Selama hampir tujuh jam, pegawai PLN ini bertahan hidup dengan memanfaatkan peralatan band milik grup band Seventeen yang ikut terseret gelombang sebagai pegangan.

Di tengah laut, Willy sempat menyelamatkan dua anak kecil yang terombang-ambing tsunami Banten. “Hampir 3 jam berenang tapi enggak berasa cape. Mungkin ini kehendak Allah belum saatnya, termasuk dua anak kecil tadi yang akhirnya dapat selamat di pesisir pantai tadi,” jelas Willy.

Seorang nelayan, Puji asal Desa Kenari, Lampung Selatan berhasil selamat saat gelombang tsunami datang. Puji menceritakan saat kejadian tersebut, dia bersama 14 nelayan lainnya sedang mencari ikan di tengah laut.

Puji melihat langsung Gunung Anak Krakatau erupsi dengan suara dentuman yang keras serta keluarnya lahar. Tak berselang lama datang gelombang yang membuat perahu dinaiki puji oleng. Kemudian datang lagi gelombang kedua yang membuat perahu Puji dan nelayan lainnya terbalik.

Kemudian datang lagi gelombang ketiga, dengan ketinggian air mencapai 10-12 meter dan saat itu Puji berserta rekan-rekannya terseret arus. Dia berusaha berenang dangan cara berpegangan dengan kayu. Setelah beberapa jam berenang dia berhasil selamat sampai di Pulau Singkarak. “Kami semua langsung terbawa arus ombak dan terpencar hingga tak tahu lagi arahnya ke mana. Alhamdulillah (selamat),” jelas Puji.

Trauma akan musibah tsunami Banten masih terngiang di benak A. Sanusi, Asisten Manager Komunikasi & CSR Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat Perusahaan Listrik Negara (UIT JBB PLN) Cinere, Depok. Sons, begitu dia biasa disapa oleh rekan-rekannya menceritakan bagaimana ombak begitu hebat menyapu panggung hingga menyebabkan banyak korban meninggal.

Saat kejadian, jarak dirinya dengan pantai hanya sekitar lima langkah saja. Sedangkan jarak panggung dengan pantai sekitar tiga meter. “Tiba-tiba panggung roboh, saya lari baru beberapa langkah saya kegulung air. Dalam air saya sekitar lima menit. Saya ada di tengah-tengah air,” kenangnya.

Dia sempat terombang-ambing di tengah air tanpa pertolongan apapun. Dia hanya mengikuti kemana arus air mengalir. Dia tidak berusaha naik ke atas air karena khawatir akan terbentur banyak material. Dengan caranya bertahan di tengah-tengah air, Sons berhasil selamat dari maut. Ketika sampai di daratan dia langsung mengucap rasa syukur mendalam karena masih diberikan keselamatan. (bwo/net)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close