AdvetorialPadalarangPemerintahanRagam Terkini

Bupati Umbara Bedah Rumah Warga yang Tinggal Dibekas Kandang Kambing

Melalui Program Ngariksa Lembur


PADALARANG– Bupati Bandung Barat, Aa Umbara Sutisna memberikan perhatian khusus bagi keluarga Jahidin (40) dan Ilah (36), warga Kampung Cidadap, RT 03 RW 13 Desa/Kecamatan Padalarang yang tinggal di bekas kandang kambing.

Kemiskinan membuat mereka dan tujuh anaknya terpaksa tinggal di bekas kandang kambing.

“Saya sudah meminta kepada dinas terkait untuk mengecek ke lapangan melihat kondisi langsung keluarga tersebut,” ujar Bupati, Senin (4/3/2019).

Masalah penuntasan kemiskinan, Umbara menyebutkan, membutuhkan sinergitas antara tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan setingkat RT, RW, kepala desa dan kecamatan. “Selama saya ngariksa lembur biasanya ada tembusan dari warga setempat dan kades dan camat,” sebutnya. Belum diketahui oleh aparat setempat masalah itu lantaran tidak terkomunikasikan dengan baik. “Masyarakat dan nitizen mesti aktif dan bijak peduli kepada kabupaten tercinta ini. Insya Allah semua permasalahan di KBB cepat teratasi,” tandasnya.

Sementara itu, Jahidin mengandalkan pendapatan tak menentu dari hasil memecah batu dijadikan cobek, tak kuasa melawan kemiskinan hingga terpaksa mengajak istri dan ketujuh anaknya tinggal di gubuk bambu bekas kandang kambing berukuran 2,5×2,5 meter persegi.

Saat ditemui wartawan, rumah panggung berdinding bilik bambu ini jauh dari kategori rumah sehat. Pencahayaan di dalam rumah terbilang minim. Atap rumah bahkan hanya dipasang terpal plastik penuh tambalan lakban.

Saking minimnya luas ruangan, Ilah menyiasati rak untuk menyimpan perabot rumah tangga. Seperti gelas, piring, mangkok, dan lainnya, ditempatkan di belakang rumah tak jauh dari MCK berdinding terpal.

Ilah mengaku pendapatan suaminya sebagai penjual cobek di kisaran Rp300 ribu per bulan. Uang itu memang tak cukup membeli makanan empat sehat lima sempurna.

“Kalau dibilang kurang pasti kurang. Untuk sehari makan sekeluarga saja beras habis dua liter,” ratap Ilah.

Tinggal di gubuk tak layak huni, tutur Ilah, dingin dan panas sudah makanan sehari-hari. Jika hujan turun, ia terpaksa waspada khawatir terpal bocor. Sementara jika kemarau, di dalam rumah terasa pengap.

“Kepengen sih punya rumah sendiri yang layak dan listrik sendiri. Ini juga listrik pakai punya orang tua,” ujarnya.

Mertua Ilah, Anda (75) yang ditemui di kediamannya yang tak jauh dari gubug Ilah, mengaku ingin membangunkan rumah untuk anak dan cucunya. Namun, untuk saat ini ia hanya mampu mengurus dua cucunya saja untuk tinggal bersamanya.

“Anak saya ingin mandiri, kalau mau tinggal sama abah juga silahkan. Sekarang dua cucu tinggal sama abah,” katanya. (adv)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close