NgamprahPemerintahanPolitikRagam Terkini

Jangan Ada “Matahari Kembar” di KBB

PADALARANG— “Mata hari kembar” di Pemkab Bandung Barat nampaknya sudah muncul kepermukaan. Kritikan pedas sang Wakil Bupati Bandung Barat, Hengki Kurniawan yang kerap dilempar ke publik membuat multi tafsir di masyarakat. “Seharusnya masyarakat tidak tahu soal itu,” ujar Pengamat Birokrasi Djamu Kertabudhi kepada redaksi, Kamis (16/5/2019).

Djamu menyarankan kepada Hengki, jika memberikan masukan sebaiknya langsung kepada bupati jangan ke ruang publik. “Langsung aja jangan ke ruang publik kurang bagus, baik wakil dan bupati mempunyai tupoksi masing-masing tidak seperti itu,” tuturnya.

Sejak KBB dibentuk, kata Djamu, sampai saat ini selalu ada aroma kurang sedap yang tercium publik mengenai hubungan bupati dengan wakilnya. Hal ini menjadi masalah klasik yang kerap terjadi disetiap daerah. Sehingga saat pembahasan RUU Tentang Pemerintahan Daerah pada tahun 2012/2013 di DPR, sempat pemerintah mengajukan konsep pemilihan kepala daerah tidak secara paket. Artinya yang dipilih langsung oleh masyarakat hanya calon kepala daerah saja. Adapun untuk calon wakilnya diajukan oleh bupati ke DPRD dari unsur birokrasi untuk mendapat persetujuan. Namun DPR berkeberatan. Akhirnya Pilkada tidak berubah, tetap secara Paket.

“Pengamatan saya saat ini, dinamika yang berkembang di KBB menunjukkan kondisi dan iklim kerja yang memerlukan peran yang saling melengkapi dan saling mengingatkan antar dua pihak. Karena proses pembenahan birokrasi Pemda KBB memerlukan formula dan ramuan bersama yang menunjang kearah capaian kinerja dalam mengemban Visi AKUR dengan slogan Lumpaaatnya,” jelas Djamu.

Tugas utama wakil bupati lanjut Djamu sudah jelas, yaitu membantu bupati dalam mengkoordinasikan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan ya g dilakukan perangkat daerah dan desa. Selanjutnya memberikan saran dan pertimbangan kepada Bupati. Sekaligus menindak lanjuti hasil temuan aparat pengawasan.

“Demikian strategisnya tugas Wakil bupati ini, sehingga tidak beralasan kalau ada pemahaman sementara pihak menganggap bahwa peran wakil hanya sebagai “ban serep” semata. Saran saya, “Anda boleh berbeda, tapi tetap bersama,” tandas Djamu. ***

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Back to top button
Close