PadalarangPariwisataPemerintahanRagam Terkini

Tak Pantas Ciburuy Dijuluki Destinasi Wisata Kalau Masih Semrawut

PADALARANG— “Siapa lagi yang akan peduli terhadap kelestarian dan keindahan terhadap kawasan Situ Ciburuy yang melengendaris itu. Kalau bukan kita lantas siapa?,” kata Ketua Forum Masyarakat Cinta Ciburuy (Formacib), Agus Aje kepada redaksi, Jumat (28/6/2019).

Kepala Dinas LH, Apung Hadiat Purwoko (tengah) bersama Ketua Formacib, Agus Aje (kiri) saat berdiskusi soal penangan sampah di kawasan Situ Ciburuy belum lama ini.

Risih memang, kawasan Ciburuy jika dipenuhi rumput liar di sekelilingnya. Destinasi (tempat tujuan) wisata di kawasan Barat Kabupatan Bandung Barat (KBB), nampaknya tak pantas disandang situ yang sudah ada di zaman Belanda itu.

“Makanya kami rutin dengan gerakan babad jukut di kawasam Ciburuy,” sebut Aje.

Gerakan itu bukan gerakan dadakan dilakukan Formacip. Namun itu sudah berlangsung enam tahun, ketika Aje merasa miris Ciburuy yang indah dibiarkan terbengkalai. “Alhamdulilah dukungan penuh dari masyarakat sekitar ikut serta gerakan kami. Tapi sayang, dukungan dari pihak desa sendiri belum sepenuhnya,” sebut Agus sembari garuk-garuk kepala menandakan kekecewaannya terhadap Pemerintahan Desa Ciburuy sebagai mitra kerja.

Pada kesempatan itu, Agus sangat berharap, janji Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil melakukan revitalisasi (menghidupkan kembali) kawasan ini segera terwujud. “Kabarnya tahun ini segera dimulai. Ya, kami ingin Ciburuy kembali kepada fungsinya seperti dulu sebagai danau tadah hujan tidak pernah kering seperti kemarau sekarang ini,” ujar pituin urang Ciburuy ini.

Beberapa hari ke belakang, kawasan Situ Ciburuy sempat menjadi sorotan publik lantaran vidio viral tumpukan sampah di kawasan Ciburuy. Terpukul dengan itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) KBB, Apung Hadit Purwoko langsung terjung ke lokasi tumpukan sampah dan langsung melakukan operasi gerakan bersih sampah.

Selang beberapa hari, dilanjutkan dengan pertemuan Bupati KBB, Aa Umbara Sutisna bersama Pakar Sampah, Prof Satori Fakar serta pegiat lingkungan KBB, Budi Juliansah dan Asep Acung.

“Penanganan sampah memang butuh biaya besar. Tapi pada dasarnya kami sudah mempersiapkan dengan bank sampah,” ungkap Agus.

Penangan itu dengan memiliah sampah organik dan an organik. Sampah organik dipersiapkan menjadi pupuk atau diolah menjadi pakan ternak. Namun untuk sampah anorganik seperti plastik dan lain sebagainya dengan cara dibakar dan diolah menjadi paving blok berbahan plastik. “Alhamdulilah kami langsung mendapat respon dari dinas lingkungan hidup sebagi mitra, yang ke depannya akan dikerjasamakan dalam pengelolaan sampah plastik menjadi barang yang bermanfaat mempunyai nilai jual ekonomis. Jadi membantu pragram pemerintah pengurangan pembuangan ke TPA Sarimukti juga kan,” tandas Agus. ****

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close