EkonomiRagam TerkiniRongga

Disperindag KBB Jangan Diam, Lihat Tuh Petani Mengolah Kopi Ditumbuk..!

RONGGA—Pengolahan kopi secara tradisional masih banyak dilakukan masyarakat. Kendalanya karena mereka tidak mempunyai alat penggilingan kopi.

Seperti halnya Rosaja, 70,. Warga Kampung Cisepan, Desa Sukamanah, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Usianya yang sudah senja, namun semangat begitu kuat menumbuk biji kopi yang sudah mengering menjadi halus. Bersama, istrinya pekerjaan itu dia tekuni selama puluhan tahun. Maklum saja, tidak ada pekerjaan lain selain menjadi petani kopi yang diolah secara tradisional.

“Biasanya ada yang mengambil untuk dijual,” katanya. Tentu saja, kopi hasil olahannya dijual jauh lebih murah per kilo gramnya kalah dengan kopi kemasan yang dijual bebas di pasaran

Rasa letihnya menumbuk kopi terbayarkan, ketika kopinya laku ada yang membelinya. Dia hanya berharap, tenaganya yang tak semuda dulu bisa teringankan jika ada alat penggilingan kopi. “Kahoyong mah angge alat,” katanya.

Dilansir dari pikiran rakyat, Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia KBB Kurnia Danumiharja mengatakan, jika kopi asal KBB mendapatkan peringkat kedua pada Specialty Coffee Association of America Expo 2016 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Kopi peringkat pertama juga berasal dari Jawa Barat, tepatnya Kabupaten Bandung.

“Sejak 2014, kopi asal Jabar selalu menempati peringkat 5 besar pada ajang internasional itu. KBB dan Kabupaten Bandung selalu berada di urutan dua teratas,” katanya di Ngamprah. Kopi asal KBB tersebut dihasilkan dari daerah pegunungan di atas 1.000 mdpl di daerah Lembang, Sindangkerta, Gununghalu, dan Rongga. Daerah dengan ketinggian tersebut memang cocok untuk produksi biji kopi berkualitas.

Kurnia mengungkapkan, produksi kopi dari KBB setiap musim panen selama lima bulan mencapai sekitar 1.000 ton. Untuk 1 kilogram kopi arabika ceri, dibanderol harga Rp 90.000. Itu jauh lebih murah dibandingkan dengan harga ideal yang bisa mencapai Rp 150.000 per kilogram. Hal itu di antaranya disebabkan tidak adanya eksportir kopi di Jabar. Selama ini, ekspor kopi asal KBB dilakukan oleh eksportir asal Medan dan daerah lainnya di Sumatra.

“Jadi, kopi asal KBB dan daerah lain di Jabar tidak mengangkat nama Jabar di pasar internasional. Sebab, belum ada eksportir kopi di Jabar. Dunia tahunya itu dari Sumatra,” katanya. Padahal, kata Kurnia, sejumlah wilayah di KBB sendiri merupakan sentra penghasil kopi. Sebut saja, seperti Kecamatan Lembang, Cikalongwetan, Sindangkerta, Gununghalu, dan Rongga. 

Dari Lembang saja, kopi yang bisa dihasilkan oleh para petani kopi yang tergabung dalam APEKI sedikitnya bisa mencapai 320 ton terhitung dalam satu kali panen. “Apalagi kalau dari seluruh petani kopi di KBB, bisa mencapai ribuan ton dengan beragam varian kopi yang bisa diolah,” katanya. ***

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close