Ragam Terkini

Tokoh Otonom Cimahi Sebut Walkot Ajay Pecahkan Rekor Defisit Anggaran Rp 200 Miliar

CIMAHI— Tokoh Otonom Kota Cimahi, Asep Taryana sebut Walikota Cimahi, Ajay M Priatna pecahkan rekor defisit Cimahi Rp 200 Miliar.

Mantan anggota DPRD Kota Cimahi ini menyebutkan, jika pun Cimahi mengalami defisit anggaran angkanya tidak sampai miliaran rupiah. “Kalau dulu masih wajar defisit enggak sampai miliaran seperti sekarang. Y, Pak Walkot kalau begitu pecahkan rekor selama Cimahi berdiri,” ujar Asep ditemui di Tipokor Bandung, Senin (22/7/2019).

Menurut Asep, alasan difisit kurangnya perencanaan penganggaran antara eksekutif dan legislatif, tidak bisa dijadikan alasan. Sebab, lanjutnya, perencanaan sudah dibahasan dalam munyawarah rencana kerja pembangunan (Musrenbang) dan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS).

“Saya sangat menyayangkan. Seharusnya seiring dengan usia Kota Cimahi semakin dewasa dalam kualitas penyelenggaraan pemerintah terlepas siapa walikotanya,” katanya.

Dirinya juga menyayangkan, hasil kunjungan kerja (Kunker) dewan ke berbagai daerah di Indonesia tanpa ada hasil yang jelas karena menyangkut anggaran yang berpengaruh kepada devisit anggaran Cimahi saat ini. “Saya main ke kantor dewan kosong melulu. Dulu masih ada yang piket sekarang tidak ada. Jelas kunker tanpa hasil pemborosan anggaran,” ungkapnya.

Dia pun meminta, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk lebih serius dalam melakukan supervisi di Kota Cimahi.

Dihubungi terpisah, Walikota Cimahi, Ajay M Priatna menyebut, defisit anggaran Cimahi mencapai Rp 200 Miliar bukan hal yang aneh. “Biasalah itu dan sekarang lagi dibahas,” katanya singkat.

Senada dengan wali kota, Sekda Kota Cimahi, Dikdik Suratno Nugrahwan menganggap wajar Cimahi mengalami defiisit anggaran. “Daerah lain pun kondisi saat ini mengalami defisit anggaran, jadi saya kira wajar,” katanya ditemui usai pelantikan di Aula Gedung Setda Pemkot Cimahi belum lama ini.

Dikdik mengatakan, Cimahi mengalami defisit lantaran mengalami ketimpangan pendapatan dan belanja daerah. Bahkan, lanjut Dikdik, setiap tahun pun muncul defisit. “Kita sedang upayakan mencari solusinya salah satunya menggali PAD dari retribusi dan pajak dan kita menggali terus sumber yang bisa dijadikan PAD,” ungkapnya.

Pihaknya juga akan melakukan efesiensi anggaran yang tidak penting seperti acara seremonial juga perjalanan dinas. “Yang kita prioritaskan adalah program pro rakyat,” tandasnya.
***

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close