KesehatanNgamprahRagam Terkini

Mediasi Keluarga Pasien Penderita Hidrosefalus Menemukan Titik Terang

NGAMPARAH– Mediasi keluarga pasien anak Alfan yang difasilitasi Dinas Kesehatan KBB bersama pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cililin menemukan titik terang. Dari Dinkes mediasi diwakil oleh dr Lia. Sementara pihak RSUD Cililin langsung oleh Kepala RSUD Cililin, dr Hidayat. Hadir juga organisasi sosial, J-Balad KBB.

Mediasi keluarga pasien anak Alfan penderita hidrosefalus bersama pihak Dinkes KBB juga RSUD Cililin. Hadir juga organisasi sosial, J-Balad.

“Alhamdulillah mediasi keluarga Alfan berjalan baik bernuansa kekeluargaan terimakasih Bu dr Lia Pak dr Hidayat beserta jajaran,” ujar Ketua J-Balad, R Arie Joehari, Kamis (20/8/2019).

Mediasi itu, pihak RSUD Cililin siap memberikan pelayanan terbaik bagi pasien Alfan yang menderita hidrosefalus.

“Hasil pertemuan itu, tinggal ke depan orang tua adik Alfan tidak lagi ragu-ragu dan intens memeriksakan anaknya agar mendapatkan pelayanan kesehatan,” sebutnya.

J-Balad mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kesehatan juga RSUD Cililin.

“Terimakasih Pak Kadinkes dr Hernawan yang telah merespon kami memberikan pelayanan terbaik buat masyarakat KBB,
terlepas dari ketidak tahuan keluarga-keluarga pra sejahtera dimanfaatkan oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Kami atas nama keluarga besar J Balad mengucapkan terima kasih dan respect sebesar-besarnya,” tandasnya.

Seperti diketahui, pasien anak Alfan merupakan penderita hidrosefalus yang mendapat perawatan di RSUD Cililin. Wakil Bupati KBB, Hengki Kurniawan sempat menengok pasien tersebut. Hengki pun meminta kepada pihak rumah sakit, memberikan pelayanan terbaik bagi pasien Alfan. Namun, buntut kunjungan Hengki itu, salah seorang staf RSUD Cililin kurang merespon. Bahkan menyebut, jika pasien Alfan merupakan “pasien artis”. Sontak, membuat pihak keluarga tersinggung dan melaporkan kepada organisasi sosial J-Balad. J-Balad pun mengirim surat terbuka untuk Wakil Bupati KBB. Surat itu, meminta mediasi untuk mencari titik temu dalam memberikan pelayanan terbaik.

Kasus itu, Arie tak ingin terulang, ketika mengajukan kursi roda bagi beberapa masyarakat yang sakit, tapi tak direspon pihak Dinas Sosial KBB.

“Dinsos KBB mengabaikan ajuan kursi roda kami untuk beberapa pasien tersebut hingga akhirnya meninggal dunia,” kenang Arie sembari berurai air mata.

Soal itu juga, Arie menyarankan kepada pihak Dinas Sosial KBB harus banyak turun ke lapangan melihat kondisi masyarakat kurang mampu yang membutuhkan uluran tangan.

“Banyaknya warga disabilitas membutuhkan alat bantu seperti kursi roda dan alat bantu disabilitas lainnya dari beberapa orang yang pernah kami kunjungi, dan kami punya data yang minta difasilitasi oleh dinas sosial hingga akhirnya meninggal dunia dengan pengharapan tak kunjung datang,” pungkasnya. ****

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close