Kota BandungPendidikanRagam Terkini

UIN SGD Bandung Bidik Beasiswa S2 & S3 di Iran

BANDUNG– Pengembangan sains serta teknologi Iran sudah tidak diragukan lagi, karena itu harus ada bentuk kerjasama yang lebih kongkret lagi di dalam bidang pengembangan sains antara Iran dengan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) SGD Bandung.

Demikian benang merah yang disampaikan Dekan Fakultas Ushuluddin Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag saat menjadi pembicara dalam Seminar Internasional 41 Tahun Republik Islam Iran dengan tema “Raihan Publikasi Ilmiah Iran di Dunia Internasional Di Tengah Ketegangan Hubungan Iran-Amerika” Aula Abjan Sulaeman, Selasa (18/2/2020).

Wahyudin mengatakan, tidak selalu memandang kata “revolusi” dengan konotasi yang negatif seperti pada kata revolusi indutri, misalnya.

Bentuk kerjasama dengan Iran ini adalah bagian dari “revolusi pembelajaran” yang sekarang sedang dijalankan di Fakultas Ushuluddin yang membaca segala kemungkinan pengembangan ilmu pengetahuan di negeri para Mullah itu.

“Ke depan saya berharap konselor kebudayaan bisa memfasilitasi beasiswa untuk mahasiswa-mahasiswa UIN untuk melanjutkan jenjang S2 serta S3 di Iran,” ujarnya.

Soal itu langsung direspon Konselor Kebudayaan Republik Islam Iran, Agha Mehrdad Rakhshandeh, Ph.D. Menurutnya, kerjasama itu terjalin untuk sama-sama memajukan negara serta umat Islam di seluruh dunia sembari menyitir ayat Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 103 yang artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.”

Dengan data-data yang kongkret, Agha menyampaikan,saat ini Iran menempati rangking 1 untuk publikasi ilmiah di kawasan Dunia Arab serta rangking 16 di seluruh dunia.

Sementara untuk citasi ilmiah menempati rangking pertama di kawasan regional serta 17 untuk seluruh dunia. Padahal prestasi itu didapatkan Iran, di bawah tekanan negara-negara Barat, termasuk embargo ekonomi dari Amerika.

“Iran juga berhasil mengatasi angka buta hurup dari 70% sebelum revolusi, menjadi 0% untuk kondisi sekarang serta serta menekan kurangnya fasilitas pada saat sebelum revolusi sehingga anak-anak Iran sekarang bisa mendapatkan berbagai kemudahan dalam pendidikan,” sebutnya.

“Tidak sebagaimana negara-negara Barat, Iran tidak memisah antara agama dengan sains. Spirit itu sebenarnya ada di UIN Bandung, dengan semboyan “WahyuP Memandu Ilmu,” ujar pembicara yang lain, Dr. Otong Sulaeman, M.Hum.

Sementara itu, Dodo Widarda, S.Ag. M.Hum sebagai Direktur Iranian Corner menyampaikan panjang hubungan kebudayaan antara Indonesia dengan Iran. “Dengan berbagai kemajuan yang berhasil diraih Iran sekarang, sudah sepatutnya kita juga sebagai akademisi UIN Sunan Gunung Djati untuk menggelorakan “Jihad Ilmiah” sehingga bisa sejajar dengan kemajuan yang dicapai institusi pendidikan lain di negara-negara maju,”ujarnya.

Acara tersebut terselenggara atas kerjasama Iranian Corner Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, bekerjasama dengan Program Studi Aqidah Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin.

Tampil menjadi pembicara, Agha Mehrdad Rakhshandeh, Ph.D sebagai Konselor Kebudayaan Republik Islam Iran, Dr. Otong Sulaeman, M.Hum dari Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra, serta Dodo Widarda, S.Ag.,M.Hum sebagai Direktur Iranian Corner. Acara dimoderatori oleh Dr. Neng Hannah, M.Ag, sebagai Ketua Prodi Aqidah Filsafat Islam dengan MC Khaume Shafa Siti Syafaryah dengan mempergunakan bahasa Indonesia serta Persia. (***/wie)

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close